Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cemburu Sesama Jenis Berujung Penyiraman Air Keras Sampai Tewas, Berhasil di Ungkap Oleh Polisi





Sekitar dua bulan lalu, tepatnya, Sabtu (14/6/2020) kurang lebih 13 orang keluarga dari Adi Nona (39) mendatangi Polres Ende menanyakan perkembangan kasus penyiraman air keras yang menewaskan Adi Nona.

Didatangi pihak keluarga, Kasatreskrim Polres Ende AKP Lorensius menegaskan pihaknya akan bekerja maksimal membongkar kasus penyiraman air keras tersebut. Saat itu belum ada penetapan tersangka.

Adi Nona yang berprofesi sebagai pedagang meninggal dunia setelah disiram dengan air keras oleh orang tak dikenal di depan Toko Mama, Jl. Aembonga 3, Kelurahan Mobawangi pada pada 16 Mei 2020.

Adi Nona meninggal dunia di RSUD Ende hari itu juga, setelah sempat mendapat penanganan medis.

Kronologinya, sekitar pukul 05.00 Wita korban berangkat ke pasar Mbongawani menggunakan sepeda motor Spin warna merah hitam dengan No. Pol EB 6189 EA, hendak untuk berjualan.

Setibanya di depan toko Mama jln. Aembonga 3, Kel. Mbongawani, korban disiram air keras oleh orang yang tak dikenal yang mengenai bagian muka dan badan korban.

Setelah disiram korban sempat berteriak meminta tolong lalu masyarakat datang menolong dan membawa korban ke RSUD Ende dengan menggunakan kendaraan roda empat angkutan umum.

Gundah keluarga Adi Nona terjawab. Polres Ende sudah menetapkan tiga tersangka dan hari ini, Kamis (21/8/2020) Polres Ende menggelar rekonstruksi kasus penyiraman air keras tersebut.

Tiga tersangka antara lain, TM (36) pedagang toge, JP (40) tukang ojek dan HK (28) buruh pelabuhan. Rumah mereka bertiga berdekatan. Sementara TM dan HK punya hubungan keluarga (sepupu).

Usai rekonstruksi, kepada awak media AKP Lorensius, menjelaskan, air keras dibeli oleh tersangka JP di Surabaya sekitar bulan September atau Oktober 2019. JP berangkat ke Surabaya menggunakan Kapal Roro.

Sekembalinya dari Surabaya, JP menyerahkan air keras tersebut kepada tersangka TM lalu TM mengantar air keras tersebut ke tersangka HK yang bertindak sebagai eksekutor.

Dia jelaskan, tersangka TM yang berprofesi sebagai pedagang toge di Pasar Mbongawani Ende tersebut, sudah berkenalan dan dekat dengan korban sejak tahun 2017.

"Mereka dekat sekali korban sering diberi uang oleh tersangka TM. Hasil pemeriksaan kami kurang lebih empat puluh lima juta rupiah korban menggunakan uang tersangka TM," ungkapnya.

Selain itu tersangka TM juga memberikan sertifikat tanah kepada korban, saat korban meminjam uang di BRI. Sertifikat tanah tersebut sebagai jaminan.

Pada awal 2019, korban berkenalan dan dekat dengan seorang pria berinisial W. Tersangka TM pun mulai tidak suka hubungan kedekatan antara korban dengan W.

Menurut keterangan tersangka TM, kata AKP Lorensius, hubungan TM dengan korban sudah layaknya seperti hubungan suami istri.

"Memang mereka sama-sama perempuan tapi hubungan mereka sudah seperti suami istri. Itu menurut TM," ungkapnya.

Dia jelaskan, tersangka TM sakit hati dan tidak menerima hubungan antara korban dan W.

Di sisi lain, lanjutnya, korban juga pernah menjelek-jelekkan TM. "Nah ini juga yang membuat TM sakit hati. Tersulut dendamlah intinya," kata AKP Lorensius.

Selanjutnya, TM menyusun rencana untuk menciderai korban. Dia mengatakan, TM menjanjikan imbalan kepada HK yang melakukan penyiraman air keras kepada Adi Nona.

Imbalan dimaksud berupa uang tujuh juta rupiah. Bayaran kepada KIN oleh TM baru empat juta rupiah.

"Terkait apakah mereka ada hubungan pelayanan seks sesama jenis antara TM dan korban, hasil pemeriksaan terhadap TM, pengakuannya seperti itu," ungkap AKBP Lorensius.

Dia menambahkan, ada 34 adegan dalam rekonstruksi kasus penyiraman air keras tersebut. Mulai dari Pelabuhan Ende, lokasi penyiraman, di rumah para tersangka dan sampai para tersangka memusnahkan barang bukti.


Posting Komentar untuk "Cemburu Sesama Jenis Berujung Penyiraman Air Keras Sampai Tewas, Berhasil di Ungkap Oleh Polisi"